Category: Makna Kata


Bahasa dan Tantowi - Web

Bahasa dan Tantowi - Web

Agama Millah dan Din - Web

Setiap usai lebaran, secara tradisional umat Islam Indonesia menyelenggarakan halalbihalal. Kantor pemerintah, instansi swasta, dan sekolah menggelar kerutinan tahunan itu. Istilah halalbihalal begitu populer, sampai kita lupa makna kata yang (mungkin) diadopsi dari bahasa Arab itu. Di tanah asalnya di Arab sana – kalau memang dari bahasa Arab – halalbihalal tak pernah dikenal orang. Besar kemungkinan istilah ini murni kreasi nenek moyang kita yang sampai kini kita terima tanpa bertanya-tanya…(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail dibawah)…

atau download kliping ini

Erotisme dan Pornografi

Ketika pornografi dibicarakan di kalangan terbatas atau dalam pembicaraan sehari-hari, tidak ada sesuatu yang penting terjadi. Namun, saat kata itu dibicarakan dalam kaitan dengan sebuah rancangan undang-undang, terjadilah polemik. Apalagi terus lahir kata baru: pornoaksi ‘aksi yang pornografis’. Mengapa?… (Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Eufimisme bukan penyakit, kata Benny H.Hoed, di rubrik ini 3 November lalu. Memang benar, tapi belum sepenuh kebenaran. Apakah eufimisme bagus atau tidak, penyakit atau bukan, munafik atau sopan, bergantung pada konteks dan tujuan pemakaian.

Kalau anda melayat tetangga sambil menceletuk, “Bapakmu akhirnya keok juga,” bisa-bisa anda menyusul keok juga. Namun, apa reaksi prajurit kalau jenderal mengacungkan lengan berteriak, “Merdeka atau meninggal dunia!”?

Eufimisme jelas bermanfaat memuluskan komunikasi: menjaga perasaan, menunjukkan kesopanan, memberikan penghormatan dan penghargaan, dst. Begitu pula hal-hal yang dianggap kotor atau menjengahkan bisa dibicarakan dengan enak: buang air, kamar kecil, kemaluan. Agaknya tak perlu diragukan bahwa bahasa-bahasa dunia tanpa kecuali mengenal dan memelihara eufimisme… (Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Apa itu eufimisme? Definisi Kamus Besar Bahasa Indonesia (2005): “ungkapan yang lebih halus sebagai pengganti ungkapan yang dirasakan kasar yang dianggap merugikan atau tidak menyenangkan, misalnya meninggal dunia untuk mati”. Definisi Webster (1991): “the substitution of an agreeable or innoffensive exxpression for one that may offend or suggest something unpleasant”. Menurut kamus ini, kata tersebut berasal dari Yunani Kuno, euphemos ‘sounding good’ atau ‘enak didengar’.

Menarik bahwa eufimisme sering jadi bahan ejekan, dicerca sebagai cara bicara munafik. Betulkah?… (Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Saya pernah ditanya kawan, “Berapa kaki kuda picak?” Ketika saya jawab, “Empat,” dia bilang, “Dua belas,” Kok bisa? Tentu bisa sebab yang dia maksud dengan picak adalah ‘sapi dan cecak’.

Jelas, teman saya bercanda. Karena itu, alih-alih kesal, saya malah geli dibuatnya.

Sebaliknya, nada berang karena merasa dianggap bodoh terasa pada surat Matthew Moore bertanggal 16 Mei di Kompas saat menanggapi tulisan R William Liddle tentang kaki lima di rubrik ini 24 April lalu.

Dengan menyebut guru Bahasa Indonesia, teman, dan asistennya sebagai rujukan. Moore yakin sudah bertindak benar menelusuri makna kaki lima. Sayangnya, ia kurang menyadari bahwa sang guru, teman, asisten, dan sejumlah pedagang K-5 belum tentu merupakan narasumber yang tepat untuk menjelaskan asal-usul sebuah istilah… (Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Saya tersenyum terheran-heran beberapa waktu yang lalu ketika membaca sebuah artikel di Sydney Morning Herald tentang pedagang kaki lima di Indonesia. Matthew Moore, wartawan koran tersebut, menggambarkan bagaimana seorang wiraswasta bule, Benjamin Whitaker, sedang berkompetisi dengan penjaja makanan asli di Jakarta. Whitaker, lulusan Wharton School of Business di Philadelphia, percaya bahwa para konsumen di Jakarta pasti tertarik kepada hamburger ala Amerika kalau disajikan di pinggir jalan seperti sate atau bakso. Ia sudah membikin sejumlah kereta beroda dua yang dilengkapi dengan alat masak serba modern.

Yang membuat saya tersenyum adalah definisi Moore tentang kereta itu, yang dipaparkannya dengan penuh keyakinan.  ‘Kaki limas or five legs is the name given to the hundreds of thousands of mobile food stall that line the streets and are so named because from a distance, they seem to have five legs if you count those of the operators (‘Kaki lima’ atau lima kaki adalah nama yang diberikan kepada ratusan ribu warung makanan beroda yang berada di tepi jalan dan diberi nama tersebut sebab dari jauh, kereta itu memberi kesan berkaki lima kalau kaki penjaja ikut dihitung)… (Baca selanjutnya dengan dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Tukul dan Thukul

Salah seorang teman saya yang berasal dari Ngawi, Jawa Timur, bernama Wiji Thukul. Ya, sama nama dengan penyair yang dihilangkan itu. Ia selalu mengeja nama belakangnya: thukul, bukan tukul. Alasannya, kosakata yang terakhir itu tak dikenal dalam bahasa Jawa. Ditulis tukul, katanya, akan jumbuh dengan kata yang serupa dalam bahasa Indonesia meski pengucapan dan artinya berbeda sama sekali.

Dalam bahasa Indonesia, tukul bermakna alat pemukul, palu. Menukul berarti memukul (paku, misalnya) dengan palu. Ditukul ya dipukul dengan palu. Kata ini juga ditemukan dalam bahasa Melayu dengan arti yang kurang lebih sama. Cuma, rasanya kita jarang mendengar kata menukul dalam praksis. Tukang-tukang kayu jarang mengucapkan, “Paku itu sudah ditukul”. Kita juga akrab dengan martil untuk palu…(Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: