Eufimisme bukan penyakit, kata Benny H.Hoed, di rubrik ini 3 November lalu. Memang benar, tapi belum sepenuh kebenaran. Apakah eufimisme bagus atau tidak, penyakit atau bukan, munafik atau sopan, bergantung pada konteks dan tujuan pemakaian.

Kalau anda melayat tetangga sambil menceletuk, “Bapakmu akhirnya keok juga,” bisa-bisa anda menyusul keok juga. Namun, apa reaksi prajurit kalau jenderal mengacungkan lengan berteriak, “Merdeka atau meninggal dunia!”?

Eufimisme jelas bermanfaat memuluskan komunikasi: menjaga perasaan, menunjukkan kesopanan, memberikan penghormatan dan penghargaan, dst. Begitu pula hal-hal yang dianggap kotor atau menjengahkan bisa dibicarakan dengan enak: buang air, kamar kecil, kemaluan. Agaknya tak perlu diragukan bahwa bahasa-bahasa dunia tanpa kecuali mengenal dan memelihara eufimisme… (Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)