Saya pernah ditanya kawan, “Berapa kaki kuda picak?” Ketika saya jawab, “Empat,” dia bilang, “Dua belas,” Kok bisa? Tentu bisa sebab yang dia maksud dengan picak adalah ‘sapi dan cecak’.

Jelas, teman saya bercanda. Karena itu, alih-alih kesal, saya malah geli dibuatnya.

Sebaliknya, nada berang karena merasa dianggap bodoh terasa pada surat Matthew Moore bertanggal 16 Mei di Kompas saat menanggapi tulisan R William Liddle tentang kaki lima di rubrik ini 24 April lalu.

Dengan menyebut guru Bahasa Indonesia, teman, dan asistennya sebagai rujukan. Moore yakin sudah bertindak benar menelusuri makna kaki lima. Sayangnya, ia kurang menyadari bahwa sang guru, teman, asisten, dan sejumlah pedagang K-5 belum tentu merupakan narasumber yang tepat untuk menjelaskan asal-usul sebuah istilah… (Baca selanjutnya dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)