Saya tersenyum terheran-heran beberapa waktu yang lalu ketika membaca sebuah artikel di Sydney Morning Herald tentang pedagang kaki lima di Indonesia. Matthew Moore, wartawan koran tersebut, menggambarkan bagaimana seorang wiraswasta bule, Benjamin Whitaker, sedang berkompetisi dengan penjaja makanan asli di Jakarta. Whitaker, lulusan Wharton School of Business di Philadelphia, percaya bahwa para konsumen di Jakarta pasti tertarik kepada hamburger ala Amerika kalau disajikan di pinggir jalan seperti sate atau bakso. Ia sudah membikin sejumlah kereta beroda dua yang dilengkapi dengan alat masak serba modern.

Yang membuat saya tersenyum adalah definisi Moore tentang kereta itu, yang dipaparkannya dengan penuh keyakinan.  ‘Kaki limas or five legs is the name given to the hundreds of thousands of mobile food stall that line the streets and are so named because from a distance, they seem to have five legs if you count those of the operators (‘Kaki lima’ atau lima kaki adalah nama yang diberikan kepada ratusan ribu warung makanan beroda yang berada di tepi jalan dan diberi nama tersebut sebab dari jauh, kereta itu memberi kesan berkaki lima kalau kaki penjaja ikut dihitung)… (Baca selanjutnya dengan dengan mengklik thumbnail di bawah)…

atau download kliping ini (PDF)